Deep inside, I need someone who genuinely care, and accept me for who I am. Seseorang yang seronok luangkan masa bersama aku. Seseorang yang tak sabar untuk kongsi berita baik atau buruk dengan aku. Seseorang yang ketawa semahunya tiap kali aku buat sesuatu yang kelakar. Selaku self-appointed narcissist, aku tidak pinta banyak dalam sebuah hubungan kecuali hal-hal kecil begini.
Because I can tolerate almost anything, I kid you not.
"You ni perangai macam perempuan. Ada je yang tak kena," FS merungut bila aku macam orang gila cari stokin tak jumpa. Aku selongkar dalam beg pakaian kami berdua, aku cari di sudut katil, aku cari dalam laci almari, aku cari merata-rata, tapi tak jumpa.
"Dah, biar jelah dah tak ada," aku putus asa, malas nak ambil peduli. "Jom turun breakfast sama-sama."
"Malaslah nak turun. I want to stay in bed," FS balas. Okay, now I'm getting a mixed signals. Aku geleng kepala, sebelum ambil keputusan untuk berbaring di sebelah FS. Aku rapatkan bibir ke dahinya. "I wish we could stay here a little longer."
FS diam sejenak, sebelum menoleh memandang aku. "You ada life you sendiri. I ada life I sendiri. It is worth the risk?"
"Maybe," aku balas dalam hati.
Last night, after taking a stroll down the beach, we went to bed early. "I want to kiss you," aku kata, sewaktu berada di atas FS.
She began to giggle for no reason. "Uh-uhh," FS geleng kepala, dengan bibir diketap perlahan. I pressed my lips against hers. "Uh-uhh," she shook her head and then giggled again.
"You ni gila ke apa tak habis-habis ketawa ni," giliran aku pula untuk ketawa kecil.
"You la gila," sebelum kucupan aku akhirnya disambut mesra.
I adore her high-spirited and happy-go-lucky attitude. It takes the pressure off me and all the guesswork out too. Above all, she makes me feel wanted. And yes, I'm starting to feel like I'm the girl in a relationship.